Babak I: Awal yang Baru

Setelah upacara kelulusan SMA yang meriah, Risa (18 tahun) memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Ia punya tujuan yang lebih mendesak: membantu perekonomian keluarganya di desa. Berbekal ijazah dan semangat membara, ia merantau ke Jakarta, kota metropolitan yang gemerlap dan penuh janji.
Ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah kafe bergaya vintage di kawasan Jakarta Selatan. Meskipun gajinya pas-pasan dan jam kerjanya panjang, Risa menjalaninya dengan gembira. Ia mengirim sebagian gajinya ke kampung dan sisanya ia pakai untuk biaya hidup seadanya di kamar kos kecilnya.
Kehidupan Risa yang monoton berubah total pada suatu sore yang sibuk. Seorang pelanggan tetap kafe bernama Bayu mulai menarik perhatiannya. Bayu adalah pria yang luar biasa tampan—tinggi semampai, kulit bersih, dengan senyum yang mampu meluluhkan siapa saja. Ia bekerja di sebuah perusahaan konsultan tak jauh dari kafe.
Bayu sering menunggu Risa selesai bekerja, menawarkan tumpangan, dan mengajaknya makan malam sesekali. Dalam waktu singkat, Risa, yang lugu dan belum pernah berpacaran, jatuh cinta pada Bayu yang tampak mapan dan sangat dewasa. Mereka resmi berpacaran.
Babak II: Tiga Bulan yang Indah
Tiga bulan berlalu seperti mimpi. Bayu memperlakukan Risa dengan sangat manis dan penuh perhatian. Ia adalah pacar yang sempurna; selalu ada untuk Risa, memberinya hadiah-hadiah kecil yang membuat hatinya berbunga, dan sering mengajaknya menikmati malam Minggu di tempat-tempat indah di Jakarta.
Risa hanya tahu bahwa Bayu adalah seorang perantau, sama sepertinya, yang berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bayu bercerita tentang ambisinya, tentang kesibukannya, dan tentang keinginan besarnya untuk sukses di ibukota. Ia selalu terlihat menghindari pertanyaan Risa tentang keluarga besarnya, mengatakan bahwa keluarganya sangat sibuk dan tinggal jauh. Risa yang terlalu dimabuk cinta tidak pernah menaruh curiga.
Yang Risa ketahui, Bayu tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil. Ia tidak pernah melihat Bayu menerima telepon yang mencurigakan atau menyimpan rahasia besar, selain sesekali Bayu akan pergi ke luar kota dengan alasan pekerjaan penting.
Babak III: Kebenaran yang Menghancurkan
Suatu hari, Bayu pamit untuk perjalanan dinas selama seminggu penuh ke Semarang. Risa merasa sedih tetapi berusaha mengerti. Malam kedua Bayu pergi, Risa iseng membuka media sosial. Ia mengetik nama “Bayu” di kolom pencarian dan menemukan akun dengan foto profil yang sangat familiar.
Itu adalah akun Facebook yang tidak aktif selama beberapa bulan. Risa melihat-lihat postingan lama, dan napasnya tercekat.

Postingan terakhir Bayu adalah foto dua anak kecil—seorang putri cantik dan seorang putra lucu—yang sedang memeluknya. Di bawah foto itu, ada tag ke sebuah akun wanita dengan nama yang asing, “Mia Ardianti.”
Risa membuka akun Mia. Di sana, ia menemukan puluhan foto keluarga: foto Bayu dan Mia di pelaminan, foto mereka saat merayakan ulang tahun anak-anak mereka, dan postingan ucapan selamat datang untuk Bayu yang sedang pulang kampung dari Jakarta.
Sebuah postingan terbaru dari Mia menjadi pukulan terakhir. Mia menulis: “Alhamdulillah, suamiku Bayu sudah kembali dari Jakarta. Keluarga kecil kita utuh lagi. Kakak (putri) dan Adik (putra) sangat merindukan Bapaknya.”
Jantung Risa serasa berhenti berdetak. Ia membaca setiap kata, setiap keterangan foto, dan semua terasa dingin, pahit, dan menusuk. Ia bukan satu-satunya wanita di hidup Bayu. Ia hanyalah kekasih gelap yang tidak tahu apa-apa.
Bayu, pemuda tampan yang sempurna itu, ternyata sudah beristri dan memiliki sepasang anak di kampung halaman di sebuah desa di Jawa Tengah.
Epilog
Risa tidak bisa tidur malam itu. Segala kenangan manis selama tiga bulan itu kini terasa menjijikkan dan palsu. Air mata mengalir tanpa henti, membasahi bantalnya. Ia merasa bodoh, dikhianati, dan patah hati.
Ketika Bayu kembali ke Jakarta, ia mendapati Risa sudah tidak bekerja di kafe itu lagi. Risa telah meninggalkan sepucuk surat pendek di meja kasir untuknya.
Bayu,
Selamat menikmati kebersamaanmu dengan istri dan anak-anakmu. Jangan pernah datang mencariku lagi. Aku sudah tahu semuanya.
Selamat tinggal.
— Risa.
Risa memilih untuk pindah ke kos yang lebih jauh, mencari pekerjaan baru, dan memblokir semua kontak Bayu.
Pengalaman itu mengubah Risa. Jakarta yang tadinya penuh harapan kini terasa kejam. Namun, di balik rasa sakit itu, tumbuh tekad baru. Ia tidak akan membiarkan dirinya ditipu lagi. Ia akan bekerja lebih keras, menabung, dan suatu hari nanti, ia akan kembali ke kampung halaman dengan kepala tegak, membawa kesuksesan yang ia raih dengan keringatnya sendiri. Pelajaran mahal di usia mudanya itu menjadi pemicu bagi Risa untuk menjadi lebih kuat dan lebih berhati-hati dalam menata masa depannya.
(bersambung)