Awan Kecil yang Lupa Caranya Menangis

Awan kecil dengan ekspresi sedih atau bingung di langit malam, dengan bulan dan bintang di latar belakang, menggambarkan awan yang kesulitan melepaskan bebannya.

Nak, malam sudah semakin larut. Lampu-lampu di Gubuk Bunda mulai diredupkan. Ambil selimutmu dan sandarkan kepala, dengarkan baik-baik ini adalah kisah tentang sebuah perasaan yang sering kita simpan terlalu lama. Kisah awan kecil yang lupa caranya menangis.

Di hamparan langit yang sangat luas, hiduplah sekelompok awan yang riang. Ada Awan Besar yang gagah, selalu tahu kapan harus mengirimkan badai yang kuat. Ada Awan Putih yang lembut, pekerjaannya hanya tersenyum dan melayang di pagi hari. Dan ada satu awan kecil yang berbeda, namanya Cloude.

Awan Kecil iIngin Menjadi Kuat

Si Awan kecil Cloude sangat ingin menjadi kuat, seperti Awan Besar. Ia takut jika ia menangis, ia akan menjadi awan yang lemah dan kehilangan bentuknya. Maka, setiap kali ia merasa berat, setiap kali ia mengumpulkan uap air yang membuatnya sesak, Cloude akan menahannya. Ia menahan air mata yang seharusnya menjadi hujan.

Setiap hari, Awan kecil Cloude menjadi semakin gelap, semakin berat, dan semakin lambat. Awan-awan lain mulai menjauhinya. Mereka tidak mengerti mengapa Cloude tidak pernah tersenyum cerah lagi.

“Cloude, mengapa kamu tidak pernah menari dan bergerak bebas seperti kami?” tanya Awan Putih yang lembut.

Cloude hanya diam. Ia merasa seperti ada batu besar di dalam dirinya. Ia sangat lelah, tetapi ia takut.

Awan Kecil Tersentuh Pilu Oleh Taman Yang Layu

Suatu malam, Awan kecil Cloude terbang di atas sebuah taman yang layu. Pohon-pohon di bawahnya menunduk sedih, dan bunga-bunga kering kehausan. Mereka memandang Cloude dengan tatapan memohon, berharap setetes air saja.

Melihat kesedihan di bawah, tiba-tiba Cloude merasakan sesuatu yang sangat kuat. Bukan rasa sedihnya sendiri, tetapi rasa kebutuhan orang lain.

Cloude mencoba menahan lagi, seperti yang selalu ia lakukan. “Aku tidak boleh lemah,” bisiknya.

Namun, beban yang ia tahan terlalu lama itu terasa makin berat dan menambah sesak, akhirnya ia menyerah.

Cloude tidak lagi berpikir tentang menjadi lemah. Ia hanya berpikir tentang rasa sesak yang harus keluar. Perlahan, satu tetes air jatuh dari tubuhnya. Lalu dua, lalu sepuluh, hingga akhirnya ribuan tetes air turun membasahi taman.

Menangis Tidak Berarti Lemah

Itulah pertama kalinya Cloude menangis dengan lega, dan itu adalah hujan yang paling lembut dan paling dibutuhkan yang pernah ada.

Saat tetesan terakhir jatuh, Cloude menyadari sesuatu yang menakjubkan:

  1. Ia tidak kehilangan bentuknya. Ia hanya menjadi lebih ringan.
  2. Ia tidak menjadi lemah. Ia justru menjadi berguna.

Awan kecil itu kini kembali bersinar, lebih ringan dari sebelumnya. Ia tahu bahwa menangis itu bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda pelepasan dan permulaan. Hujan yang ia berikan itu tidak hanya membersihkan taman, tetapi juga membersihkan dirinya sendiri.

Lagu : Awan Kecil Cloude

(Verse 1) Di langit biru yang terbentang luas. Ada awan kecil, bernama Cloude. Ia selalu ingin jadi yang terkuat. Menahan beban, tak mau menangis

(Chorus) Oh, Cloude… oh, Cloude Mengapa kau simpan air matamu? Padahal hujanmu dinanti alam. Menyirami hati yang haus damai

(Verse 2) Semakin lama, ia pun gelap Hatinya berat, tak bisa bergerak Melihat bunga di taman layu, Cloude merasa tak berdaya dan pilu

(Chorus) Oh, Cloude… oh, Cloude Mengapa kau simpan air matamu? Padahal hujanmu dinanti alam Menyirami hati yang haus damai

(Bridge) Lalu tetes pertama jatuh perlahan. Membebaskan semua yang tertahan. Bukan lemah, tapi merasa lega. Hujan pun turun, membersihkan jiwa.

(Chorus) Oh, Cloude… oh, Cloude Kini kau tahu, air mata bukan duka Tapi hujanmu membawa berkah Menyirami hati yang haus damai

(Outro) Tidurlah, Nak, tidurlah yang nyenyak. Biarkan bebanmu larut bersama malam . Esok pagi, kau kan bersinar lagi Seperti Cloude, yang kini mengerti.


Pesan Bunda

Nak, Bunda ingin kamu ingat kisah Cloude ini.

Kadang, kita perlu membiarkan hujan turun dari diri kita. Menangis bukanlah kelemahan’ tapi Menangis adalah cara tubuhmu berkata: “Aku sudah menahan terlalu banyak, dan kini aku butuh pelepasan.”

Jangan takut untuk melepaskan beban di Teras Hati atau di bantalmu. Setelah hujan turun, kamu akan merasa ringan, dan esok hari, kamu akan siap untuk bersinar kembali.

Selamat beristirahat, Nak. Tidurlah yang nyenyak. Bunda menyayangimu.

Tinggalkan komentar